Hingga Mei 2017, Sulteng Diguncang 17 Kali Gempa

737
Petrus Demon Sili

SultengTerkini.Com, PALU– Sepanjang tahun 2017 atau hingga akhir Mei, pihak Stasiun Geofisika Klas I Palu, Sulawesi Tengah mencatat ada sebanyak 17 kejadian gempa yang tersebar di wilayahnya.

Rinciannya, pada Januari tercatat hanya sekali terjadi gempa, disusul Maret lima kali gempa, dan April dua kali gempa.

Sementara pada Mei wilayah Sulteng diguncang sebanyak sembilan kali gempa, termasuk yang terjadi di Poso, Senin (29/5/2017) malam berkekuatan 6,6 Skala Richter (SR).

Untuk guncangan gempa di tahun 2017 ini, di Kabupaten Poso masih tercatat paling tinggi yakni 6,6 SR.

“Apabila terjadi gempa seperti yang terjadi Senin malam, maka kita tetap harus dalam keadaan tenang, jangan panik,” kata Kepala Stasiun Geofisika Klas I Palu Petrus Demon Sili saat ditemui SultengTerkini.Com, Selasa (30/5/2017).

Contoh gempa kemarin di Poso, tidak sedikit warga yang lari ke daerah ketinggian.

Untuk itu, masyarakat diimbau tetap tenang dan mengikuti arahan pemerintah dalam hal ini BMKG, BPBD, TNI/Polri dan institusi terkait lainnya yang resmi.

Selain itu, jangan mudah termakan isu menyesatkan seperti informasi yang berkembang bahwa pukul 12 malam akan terjadi gempa susulan.

“Itukan isu yang menyesatkan,” katanya.

Pihaknya juga mengimbau kepada masyarakat agar tetap waspada dengan adanya gempa-gempa susulan.

Karena kata Petrus, pada prinsipnya gempa susulan itu biasanya lebih kecil daripada gempa utama.

“Seperti semalamkan itu gempa utamanya berkekuatan 6,6 SR, gempa susulan tidak mungkin lebih dari gempa utama, pasti jauh lebih kecil. Kenapa masyarakat tetap harus waspada, karena ada bangunan yang sudah retak berat, jangan masuk ke dalam rumah dulu,” tuturnya.

Petrus berharap agar pemerintah setempat dapat menyosialisasikan kepada masyarakat di wilayahnya soal wilayah yang rawan oleh bencana.

Tidak kalah pentingnya pemerintah harus menyiapkan tempat aman untuk proses evakuasi warga.

“Kemudian titik kumpulnya dimana, itu juga harus ditentukan, sehingga tidak membingungkan warga saat kejadian. Yang menentukan juga aparat pemerintah desa setempat seperti RT, RW, atau kepala desakah. Tidak bisa ada apa-apa kita lari ke luar rumah begitu saja. Kita harus mencari tempat aman yang sudah disediakan tadi untuk evakuasi warga, seperti ke lapangan misalnya,” katanya. FIQ

Silakan komentar disini...