Inilah Komoditas Penyumbang Inflasi di Sulteng

423
KEPALA Badan Pusat Statistik Sulawesi Tengah Faizal Anwar (paling kiri) didampingi Kepala Bidang Statistik Distribusi, Wahyu saat jumpa pers terkait inflasi di kantornya Jalan Muhammad Yamin Palu, Jumat (2/6/2017). FOTO: FHIQRIYAWAN

SultengTerkini.Com, PALU– Badan Pusat Statistik Sulawesi Tengah (BPS Sulteng) menyebutkan ada 346 jenis komoditas yang beberapa diantaranya menyumbang angka inflasi cukup besar di wilayahnya.

Kepala Bidang Statistik Distribusi BPS Sulteng, Wahyu mengatakan, ada lima komoditas penyumbang inflasi tertinggi di wilayahnya diantaranya adalah ikan segar dan tarif listrik.

Adapun empat besar komoditas ikan segar sebagai penyumbang inflasi yakni ikan cakalang dari 0,1% menjadi 0,31%, kemudian ikan bakar 0,12%, ikan ekor kuning 0,10% dan ikan senar 0,10%.

Satu komoditas lainnya sebagai penyumbang terbesar inflasi yang memang sudah berlangsung hampir lima bulan ini adalah tarif listrik.

“Memang ini adalah kebijakan dari pemerintah, sehingga kita tidak dapat melakukan intervensi,” tuturnya.

Kenaikan tarif listrik tersebut dimungkinkan masih akan terjadi hingga Juni.

Secara otomatis tarif listrik tersebut akan menyumbangkan angka inflasi hingga Juni 2017.

Ia mengatakan, di tahun 2017 ini, hampir setiap bulan di Sulteng terjadi inflasi.

Selama Mei 2017, Kota Palu mengalami inflasi sebesar 0,81% yang dipengaruhi oleh naiknya indeks harga, pada kelompok bahan makanan (1,6%).

Dilakukan oleh kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau yakni (1,24%).
Transpor, komunikasi dan jasa keuangan (0,47%).

Sedangkan pada perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar (0,40%).

Kesehatan (0,12%), pendidikan rekreasi dan olahraga (0,09%) serta sandang (0,08%).

Pada Januari 2017, inflasi cukup tinggi yakni 1,32%, kemudian turun inflasinya menjadi 0,29%, 0,25% di Maret, 0,46% di April, dan Mei menjelang Ramadhan inflasi cukup tinggi yakni sebesar 0,81%.

“Jadi, perlu antisipasi untuk dua bulan kedepan. Karena Juni ini Ramadhan dan Lebaran, kemungkinan untuk terjadinya inflasi itu cukup besar,” katanya.

Ia berharap agar organisasi perangkat daerah terkait dan pemerintah daerah setempat bisa mengantisiapasi agar tekanan inflasi tidak naik terlalu tinggi. FIQ

Silakan komentar disini...