Polisi Tetapkan Dua Tersangka Penganiayaan Anggota Korem 132/Tadulako dan Istrinya

547
ILUSTRASI

SultengTerkini.Com, PALU– Penyidik Satuan Reserse Kriminal (Reskrim) Polres Palu, Sulawesi Tengah akhirnya menetapkan tersangka kasus penganiayaan terhadap Kopda Nurul Huda, anggota TNI AD yang berdinas di Korem 132/Tadulako.

Kopda Nurul Huda menjadi korban penganiayaan bersama istrinya oleh sekelompok preman penjaga parkir liar di kawasan Pusat Perbelanjaan Palu Plaza pada 22 Juni 2017.

“Sudah ditetapkan tersangkanya, ada dua orang yakni berinisial Ph dan Rp,” kata Kapolres Palu AKBP Christ Reinhard Pusung melalui Paur Bagian Operasional Humas Aipda I Kadek Aruna, Rabu (19/7/2017).

Ia mengatakan, dua tersangka itu ditetapkan setelah penyidik mengantongi dua alat bukti yang cukup.

Penyidik telah melayangkan surat panggilan terhadap Ph dan Rp untuk selanjutnya diperiksa dalam kapasitasnya sebagai tersangka.

“Panggilan keduanya sudah dilayangkan dengan statusnya sebagai tersangka. Untuk jadwal pemeriksaannya itu, Rabu hari ini,” kata mantan Kanit Dikyasa Satuan Lalu Lintas Polres Palu itu.

Jika Ph dan Rp itu tidak datang memenuhi panggilan penyidik ke Mapolres Palu untuk diperiksa, maka akan diterbitkan surat perintah membawa terhadap kedua tersangka.

Sebelumnya diberitakan, korban Nurul Huda bersama istri dan anaknya pada 22 Juni 2017 mendatangi pusat pertokoan Palu Plaza untuk berbelanja keperluan menjelang Lebaran.

Menurut istri Nurul Huda, kejadian itu diawali saat mereka akan berbelanja membeli sepatu Lebaran untuk anaknya.

“Saat itu kami masuk kompleks pertokoan, kami diteriaki sama preman “weh kamu tidak lihat jalan ditutup”, padahal jarak jalan ditutup itu masih sekitar 50 meter di depan kami, lantas kami putar arah karena kalaupun tidak diteriaki kami juga tetap putar arah karena tidak bisa lewat, sehingga kami putar arah dan sampai di tempat orang yang meneriaki kami tersebut, lalu saya berkata “biasa aja kali nggak usah teriak-teriak” tapi dia malah marah-marah, sehingga suami saya juga ikut menegur orang tersebut secara baik2. “Sopan sedikit bos sama pengunjung”.

Disitulah dia tambah marah, sehingga terjadi perdebatan dan tiba-tiba datanglah dari arah belakang kami beberapa orang yang jumlah jelasnya saya tidak bisa menghitung karena banyaknya orang yang menyerang tersebut, langsung mengeroyok suami saya di depan mata saya dan anak saya.

Saat saya ingin melindungi suami saya mereka malah balik arah memukul saya di bagian dada dan tangan beberapa kali, sehingga suami saya berteriak “jangan pukul saya, saya anggota”.

Namun mereka tidak percaya dan malah menantang dan berkata “kalau kau anggota lapor saja, kau kira kita takut” akhirnya suami saya menelpon atasannya sehingga mereka lari membubarkan diri,” cerita istri Nurul Huda panjang lebar.

“Selanjutnya akibat tindakan para preman tersebut saya beserta suami dan anak saya mengalami trauma apabila teringat kejadian tersebut, sehingga suasana Lebaran tahun ini terasa sangat menyakitkan bagi kami sekeluarga. Semoga para pelaku penganiayaan kepada kami dapat dijatuhi hukuman yang setimpal dengan perbuatannya,” katanya.

Ia pun berharap semoga tidak ada lagi parkir yang dikelola oleh preman agar kejadian yang menimpa padanya sekeluarga tidak terulang lagi kepada warga yang lain.

Sementara itu, menanggapi kejadian itu, Komandan Korem 132/Tadulako Kolonel Inf Muhammad Saleh Mustafa sangat prihatin dengan adanya tindakan sekelompok orang preman ini.

“Tradisi parkir liar setiap tahun ini tidak boleh dibiarkan karena selalu membawa dampak tidak baik seperti yang terjadi kepada anggota saya Kopda Nurul Huda beserta keluarganya sehingga membawa ekses tidak baik dan dapat meresahkan masyarakat,” tutur orang pertama di Korem 132/Tadulako itu.

Danrem Saleh Mustafa mengaku telah berkoordinasi dengan Gubernur Longki Djanggola, Kapolda Rudy Sufahriadi dan Walikota Hidayat agar tradisi parkir liar seperti ini tidak boleh ada lagi.

Danrem pun berharap kepada kepolisian agar pelaku penganiayaan dapat diproses sesuai ketentuan hukum yang berlaku.

“Karena negara kita adalah negara hukum, tidak ada satu orangpun di negara ini yang kebal akan hukum,” tegas Danrem Saleh Mustafa.

Selanjutnya Danrem Saleh Mustafa mengajak seluruh pihak dan masyarakat untuk bersama-sama menjaga situasi dan kondisi keamanan di Kota Palu agar tetap kondusif.

“Jangan korbankan kedamaian Kota Palu yang telah berjalan dengan baik ini untuk kepentingan pribadi ataupun golongan,” tegas perwira menengah berpangkat tiga melati di pundaknya itu. CAL

Silakan komentar disini...