Warga Buol Resah dengan Aktivitas Pembangunan Gudang Dinamit

669
SEJUMLAH warga Desa Hulu Balang, Kecamatan Palele Barat, Kabupaten Buol, Sulawesi Tengah menanti tanggapan dari pihak wakil rakyat saat melakukan aksi damai di halaman gedung DPRD setempat, belum lama ini. FOTO: VERA

SultengTerkini.Com, BUOL– Ribuan warga Desa Hulu Balang, Kecamatan Palele Barat, Kabupaten Buol, Sulawesi Tengah resah dengan adanya aktivitas pembangunan gudang alat peledak berupa dinamit dan rencana pengeboran tambang emas oleh PT Bina Daya Lahan Pertiwi (BDLP) di sekitar pemukiman mereka.

Salah seorang Tokoh Masyarakat setempat, Arlan L Amalu mengatakan, awalnya mereka telah menerima kehadiran PT BDLP di wilayah itu, dimana pemerintah menjanjikan aktivitas PT BDLP berada jauh dari pemukiman dan tidak membahayakan keberadaan warga.

“Apa yang dilakukan PT BDLP di luar perjanjian pemerintah kepada masyarakat,” ujar Arlan kepada wartawan, Rabu (26/7/2017).

Selain itu kata dia, perusahaan tersebut juga telah menetapkan belasan titik sebagai lokasi pengeboran yang jaraknya hanya sekitar 500 meter dari pemukiman dan sangat berpotensi menimbulkan gangguan di masyarakat.

Sementara untuk menghentikan hal tersebut, pada Selasa (25/7/2017) sejumlah warga menemui Bupati Buol dr Amirudin Rauf untuk menyampaikan keluhan itu.

Kepada warga, Bupati yang akrab disapa dr Rudi itu menyatakan akan menggandeng DPRD Kabupaten Buol untuk bertemu Dinas Pertambangan Provinsi guna membicarakan persoalan itu.

“Pekan depan saya bersama anggota DPRD akan berangkat ke Palu untuk membicarakan persoalan tersebut. Hal ini juga akan saya bahas saat bertemu Gubernur Sulteng,” ujar dr Amirudin.

Desa Hulu Balang merupakan salah satu wilayah di Sulteng yang tanahnya memiliki kadar emas dan telah dikelola secara tradisional oleh masyarakat secara turun temurun sejak puluhan tahun lalu.

Bahkan berdasarkan data di kantor desa setempat hampir 80 persen warganya bekerja sebagai penambang tradisional.
“Sejak tahun 60-an, para orangtua kami telah bekerja sebagai penambang tradisional. Bahkan hingga kini pekerjaan tersebut masih menjadi andalan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan dapur dan biaya sekolah anak,” tutur Arlan.

Sementara itu, pihak PT Bina Daya Lahan Pertiwi belum memberikan tanggapan atas keluhan dan protes masyarakat di Buol mengenai aktivitas perusahaan tersebut. VRA

Silakan komentar disini...