Menteri Yohana Yambise: Angka Kekerasan Anak di Indonesia Masih Tinggi!

250
MENTERI Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI Yohana Susana Yambise didampingi Gubernur Sulawesi Tengah Longki Djanggola saat diwawancarai sejumlah jurnalis usai acara One Day for Children di halaman Masjid Agung Darussalam Kota Palu, Ahad (30/7/2017). FOTO: ICHAL

SultengTerkini.Com, PALU– Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI Yohana Susana Yambise mengakui, secara umum angka kasus kekerasan perempuan dan anak di Indonesia masih cukup tinggi, tidak hanya di Sulteng.

Jika angka kekerasan anak di Sulawesi Tengah (Sulteng) cukup tinggi, maka tentunya hal itu menjadi perhatian serius oleh pemerintah setempat dan instansi terkait agar memperhatikan isi pemenuhan hak anak dan tumbuhkembang mereka.

“Saya melihat secara umum anak-anak di Kota Palu, Sulawesi Tengah ini sudah  cukup berkembang. Artinya mereka sudah memenuhi tingkat pendidikannya. Hal itu menunjukkan bahwa pemerintah setempat cukup konsen dan peduli terhadap anak-anak di daerahnya,” kata Menteri Yohana Yambise kepada sejumlah wartawan usai acara One Day for Children di halaman Masjid Agung Darussalam Kota Palu, Ahad (30/7/2017).

Oleh karena itu, terkait masalah kekerasan anak, kedatangan Menteri Yohana Yambise bersama rombongan ke Kota Palu dalam rangka mendeklarasikan kabupaten/kota menuju Kota Layak Anak, sehingga indikator akan menurunkan angka kekerasan anak di wilayah setempat dapat terlaksana dengan baik.

Menurut Yohana Yambise, saat ini secara nasional sudah ada sebanyak 319 kabupaten/kota dari 516 kabupaten/kota di Tanah Air yang sudah dideklarasikan sebagai kota layak anak.

“Jadi kalau malam ini kita tambahkan 13 kabupaten/kota, maka jumlah Kota Layak Anak yang dideklarasikan sudah sebanyak 332 kabupaten/kota,” kata Yohana Yambise.

Pihaknya menargetkan seluruh kabupaten/kota di Indonesia sudah dideklarasikan sebagai Kota Layak Anak, sehingga akan terwujud Indonesia Layak Anak pada tahun 2030 mendatang.

Sementara itu, Gubernur Sulteng Longki Djanggola menyebutkan, berdasarkan data yang ada, angka kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di wilayahnya, baik terjadi di lingkup rumah tangga maupun di ranah public menunjukkan angka signifikan.

Di Sulawesi Tengah, data kekerasan terhadap perempuan dan anak sejak empat tahun terakhir dari Pusat Pemberdayaan Terpadu Pelayanan Perempuan dan Anak Provinsi Sulteng, adalah pada tahun 2013 sebanyak 49 kasus, tahun 2014 29 kasus, tahun 2015 67 kasus, dan tahun 2016 hingga 30 Juni 2017 sebanyak 92 kasus.

Sedangkan data dari Badan Narkotika Nasional Provinsi Sulteng, korban akibat penggunaan narkoba, tiap tahunnya mengalami peningkatan, yaitu pada tahun 2008 sebanyak 10.900 kasus, tahun 2011 sebanyak 11.049 kasus, tahun 2014 sebanyak 24.370 kasus, dan tahun 2016 sebanyak 39.810 kasus.

“Dalam kasus ini, Provinsi Sulteng menempati peringkat ke 15 dari 34 provinsi di Indonesia, dan untuk kasus penggunaan narkoba di Kota Palu sampai tahun 2016 tercatat 4.414 kasus, dengan korban pengguna narkoba yang terbanyak adalah pelajar dan anak di bawah umur,” kata Gubernur Longki Djanggola.

Ratusan anak-anak dari berbagai sekolah pendidikan anak usia dini, taman kanak-kanak, termasuk anak penyandang disabilitas di Kota Palu ikut meramaikan kegiatan One Day for Children dalam rangka Hari Anak Nasional.

Berbagai kegiatan yang diikuti Menteri Yohana Yambise yakni menandatangani kain putih berukuran 100 meter sebagai bentuk kampanye anti kekerasan dan anti narkoba.

Selain itu, Menteri Yohana Yambise juga memberikan bantuan perlengkapan sekolah secara simbolis kepada enam orang anak.

Menteri Yohana Yambise juga ikut kegiatan budaya cuci tangan, makan buah-buahan, senam ceria anak, serta bernyanyi bersama dengan ratusan anak sekolah.

Malam ini, Menteri Yohana Yambise beserta Forum Komunikasi Pimpinan Daerah Sulteng dan Kota Palu juga akan menghadiri Deklarasi Kota Layak Anak yang berlangsung di salah satu hotel di wilayah Kecamatan Palu Barat. CAL

Silakan komentar disini...