Korban Penembakan DPO Kelompok Santoso di Parigi Dimakamkan

385
SEJUMLAH aparat kepolisian dan TNI saat menggotong jenazah Simson alias Sunju (30), seorang petani di Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah yang tewas ditembak oleh kelompok sipil bersenjata Mujahidin Indonesia Timur pimpinan almarhum Santoso, sebelum dimakamkan, Jumat (4/8/2017) pagi tadi. FOTO: IST

SultengTerkini.Com, PARIGI MOUTONG– Jenazah Simson alias Sunju (30), seorang petani di Kabupaten Parigi Moutong (Parimo), Sulawesi Tengah (Sulteng) yang tewas ditembak oleh kelompok sipil bersenjata Mujahidin Indonesia Timur pimpinan almarhum Santoso, akhirnya dimakamkan, Jumat (4/8/2017) pagi tadi.

“Korban sudah dimakamkan tadi pagi sekitar pukul 10.30 Wita di Desa Lobu Mandiri, Kecamatan Parigi Barat, Kabupaten Parigi Moutong,” kata Kabid Humas Polda Sulteng AKBP Hari Suprapto yang ditemui SultengTerkini.Com di ruang kerjanya, Jumat sore.

Selain keluarga dan kerabatnya, proses pemakaman jenazah korban itu juga dihadiri Kapolres Parimo AKBP Sirajuddin Ramly, Kapolsek Parigi Iptu Muslimin, tokoh masyarakat dan tokoh adat setempat.

“Proses pemakaman berlangsung aman dan lancar,” ujar mantan Kepala Satuan PJR Direktorat Lalu Lintas Polda Sulteng itu.

Sebelumnya, Kapolda Sulteng Brigjen Polisi Rudy Sufahriadi kepada sejumlah jurnalis di mapolda setempat mengatakan, kejadian penembakan itu terjadi pada Kamis (3/8/2017) pagi sekira pukul 09.00 Wita di kawasan pegunungan Pora, Desa Parigimpu’u, Kecamatan Parigi Barat, Parimo atau sekitar lima kilometer dari pemukiman warga desa setempat.

Ia memastikan jika pelaku penembakan terhadap korban Simson adalah sisa kelompok Santoso berjumlah tujuh orang yang sudah lama masuk dalam daftar pencarian orang.

Kasus penembakan ini diketahui berdasarkan informasi dari seorang saksi berinisial OL yang awalnya dikelilingi oleh beberapa orang bersenjata di pegunungan Pora.

Disaat bersamaan, korban Simson yang melihat kejadian itu ingin membantu OL.

Bahkan korban sempat melawan dan ingin merampas senjata kelompok sipil itu, namun sayang upayanya tidak berhasil.

Disaat situasi itulah kemudian dimanfaatkan oleh saksi OL yang akhirnya berhasil menyelamatkan diri ke tempat lebih aman.

Sementara korban Simson nyawanya tidak terselamatkan setelah ditembak oleh pelaku satu kali yang mengenai dada kiri atas.

Setelah merasa aman, saksi OL kemudian melaporkan situasi itu kepada keluarganya di Parigi Kota.

Sementara itu, saksi lainnya berinisial Yp kepada polisi mengaku mendengarkan suara letusan sebanyak satu kali berada di pondok tempat kejadian perkara.

Dari keterangan saksi itu pula disebutkan, bahwa pelaku berpakaian preman dan berambut panjang atau gondrong dan menenteng beberapa pucuk senjata api organik dan senjata api rakitan.

Kapolda mengaku belum bisa menyimpulkan jenis senjata api mana yang menembus dada kiri atas korban hingga tak bernyawa.

Saat ini ribuan aparat gabungan TNI dan Polri telah dikerahkan ke lokasi dan sekitarnya untuk mengejar para pelaku DPO tersebut.

“Sebagian besar pasukan yang terlibat dalam Operasi Tinombala sudah digeser ke lokasi dalam rangka pengejaran dan melakukan penyekatan di pegunungan Pora dan sekitarnya untuk membatasi ruang gerak mereka,” kata mantan Kapolres Poso itu sembari menambahkan jika saat ini sisa DPO kelompok Santoso itu masih memegang dan memiliki dua senjata api organik jenis M 16 mini dan SS1 serta satu senjata api rakitan. FAH

Silakan komentar disini...