Aborsi, Sepasang Pelajar di Luwuk ini Jadi Tersangka

367
ILUSTRASI

SultengTerkini.Com, LUWUK– Penyidik Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Banggai di Sulawesi Tengah akhirnya menetapkan sepasang atau dua pelajar Sekolah Menengah Atas (SMA) di Luwuk sebagai tersangka kasus aborsi.

“Dua tersangkanya itu adalah berinisial FL alias Eb (19) dan SJ alias Tm (17),” kata Kapolres Banggai AKBP Heru Pramukarno melalui Kepala Satreskrim, AKP Rizki Pratama Wida Prastianto saat dihubungi SultengTerkini.Com per telepon genggamnya, Kamis (7/12/2017).

Rizki mengatakan, tersangka FL alias Eb (19) merupakan siswi kelas III SMA, sementara tersangka SJ alias Tm (17) adalah siswa kelas II dari dua SMA berbeda di Luwuk.

Kasus aborsi itu terjadi pada Kamis (9/11/2017) di Kilometer 1, Kelurahan Bungin, Kecamatan Bungin.

Peristiwa ini berawal dari hubungan asmara FL alias Eb dan SJ alias Tm. Hasil buah cinta pasangan remaja ini digugurkan, lalu ditanam di perkebunan kelapa di Desa Tinonda, Kecamatan Lamala.

Sebelum janin bayi ditanam, dua pelajar SMA ini memang berpacaran, lalu bermesraan.

Bahkan berhubungan badan layaknya suami istri sekira bulan Agustus 2017, hingga si perempuannya hamil pada September 2017 lalu.

Padahal mereka berpacaran hanya sekitar dua pekan saja. Tapi karena sering berhubungan badan, maka si perempuannya akhirnya hamil.

Namun, karena malu dan keduanya masih sekolah, mereka memilih menggugurkan kandungannya pada November 2017. FL langsung datang ke kediaman si lelaki SJ (17).

FL meminta pertanggungjawaban dari SJ. Namun, SJ menolak dan malah menyuruh FL untuk menggugurkan kandungannya.

Tak lama kemudian, SJ memberikan empat butir obat yang dibeli seharga Rp500 ribu dari saksi RR untuk dapat menggugurkan kandungan yang diprediksi masih sebulan lebih itu.

FL akhirnya menuruti kemauan SJ. Eb pun mengonsumsi obat tersebut di rumah SJ di Kelurahan Bungin, Kecamatan Luwuk pada awal November 2017 lalu.

Reaksi obat itu akhirnya berhasil. Kandungan dari buah hati SJ dan FL pun akhirnya jatuh.

Setelah itu, janin mereka dibungkus dengan menggunakan seragam sekolah, lalu dikemas dengan kantong plastik.

Janin mereka pun dibawa salah seorang kerabat SJ di Desa Bunga, Kecamatan Luwuk Utara. Setelah itu dibawa ke perkebunan kelapa Desa Tinonda, Kecamatan Lamala untuk kemudian ditanam.

Namun sialnya, saat menanam janin tersebut, sejumlah warga melihat gerak gerik mereka yang mencurigakan. Warga yang curiga itu akhirnya melaporkan kejadian itu ke Mapolres Banggai.

Untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, kedua tersangka dijerat dalam pasal 194 Undang-Undang Kesehatan dengan ancaman penjara maksimal 10 tahun dan denda paling banyak Rp1 miliar serta pasal 80 Undang-Undang Perlindungan Anak.

“Keduanya tidak ditahan karena mereka masih sekolah dan kooperatif sampai saat ini, serta ada jaminan dari orang tuanya,” tegas perwira pertama berpangkat tiga balok di pundaknya itu.

Polisi juga telah mengamankan barang bukti dalam kasus itu berupa janin bayi, pakaian seragam sekolah dan sarung warna coklat yang digunakan untuk mengemas janin bayi. CAL

Silakan komentar disini...