Astagfirullah, Ada Rencana Pesta LGBT di Palu pada Malam Tahun Baru

2004

SultengTerkini.Com, PALU– Forum Umat Islam (FUI) Sulawesi Tengah (Sulteng) mensinyalir adanya rencana kaum Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender (LGBT) bakal merayakan malam pergantian tahun dengan menggelar pesta seks di Kota Palu. Sinyalemen ini disampaikan FUI, setelah melakukan penelusuran.

“Penelusuran yang kami lakukan, baik melalui online, maupun cek dan ricek di lapangan. Kami mendapatkan indikasi adanya rencana kaum sodomi, bakal merayakan pesta seks yang mereka kamuflasekan dengan pesta khusus,” kata Humas FUI Sulteng, Abdurrahman, Jumat (29/12/2017).

Menurut Abdurrahman, penelusuran awal dilakukan melalui media online di beberapa grup tertutup komunitas gay yang berlokasi di Kota Palu.

Identifikasi awal, dengan menggunakan Internet Protocol Address (Alamat IP) dari grup yang diperoleh FUI.

“Dari alamat IP itu, kemudian kita ketahui kalau komunitas berbasis online itu, berada di Kota Palu. Dalam komunitas itu, disebarkan undangan untuk menggelar pesta khusus di malam pergantian tahun. Pesta khusus ini, kita artikan dengan pesta seks,” ungkap Abdurrahman, sambil memperlihatkan tangkapan layar (screenshot) komunitas gay yang berhasil diidentifikasi oleh Tim Cyber Army FUI Sulteng.

Menurut Abdurrahman, para komunitas LGBT di Kota Palu juga mengaku akan merayakan momen kemenangan mereka, karena hakim di Mahkamah Konstitusi (MK) menolak gugatan yang dialamatkan kepada kaum LGBT.

Momen malam tahun baru, diduga akan menjadi puncak dari perayaan kemenangan mereka tersebut.

Secara khusus, menurut Abdurrahman, FUI tidak akan menyurati ke pihak kepolisian untuk mengantisipasi sinyalemen adanya pesta seks kaum sodom malam tahun baru besok.

Sebab katanya, polisi pasti tidak punya dasar dan alibi dalam memberikan tindakan, sebab MK sudah menetapkan, bahwa tidak ada pasal pidana yang bisa menjerat kaum sodom yang melakukan tindakan asusilanya tersebut.

“Maka umat Islam yang harus bergerak. Kalau tidak ada pelanggaran pidananya, maka ini adalah pelanggaran moral. Warga Palu masih punya moral, maka sebagai penjaga moral, umat Islam wajib untuk memberikan tindakan. Kita sudah mengidentifikasi hot spot tempat nongkrongnya kaum LGBT, termasuk beberapa hotel yang kemungkinan dijadikan tempat pesta khusus tersebut,” tegas Abdurrahman.

Di sisi lain, menurut Abdurrahman, polisi pasti sudah mencium adanya rencana kaum sodom untuk menggelar pesta seks malam pergantian tahun besok. Intel Polri, pasti lebih kuat dan lebih berwenang dalam menelusuri setiap informasi.

“Tim Cyber Armi di FUI dengan hanya bermodalkan android yang bukan 4G saja, mampu mengendus. Apalagi Polri yang SDM dan kemampuan peralatannya jauh lebih memadai, pasti informasinya lebih akurat,” ungkapnya lagi.

Informasi lain yang diperoleh oleh FUI, jika memang ada rencana kaum sodom mau melakukan pesta seks, kemungkinan akan dilakukan di tempat tertutup dan pasti aksesnya terbatas.

Paling memungkinkan, mereka menggelarnya di kamar-kamar hotel.

“Tapi hotelnya, pasti yang tidak bisa dirazia aparat. Kalau menggelar pesta seks di luar kota, sangat kecil kemungkinannya, sebab mereka juga mau ramai-ramai dulu di momen pergantian tahun, lalu setelah itu dilanjutkan dengan pesta khusus di tempat yang mereka sudah siapkan,” beber Abdurrahman.

Sementara itu, sumber yang dihubungi terpisah, mengaku bahwa komunitas gay di Kota Palu, jumlah yang tercatat sekitar 400-an orang.

Jumlah tersebut, kata sumber aktivis HIV-AIDS di Kota Palu ini, merupakan jumlah yang terdata.

“Yang tidak terdata, kemungkinan lebih banyak lagi. Kalau di rumus penggiat HIV-AIDS, jika ada satu yang teridentifikasi, maka ada 10 yang tersembunyi. Jadi kalau 400-an yang terdata, silakan dikalikan 10, jumlahnya berarti sekitar 4 ribuan. Khusus di Kota Palu,” kata sumber yang mewanti-wanti namanya tidak dipublikasikan itu.
Dikonfirmasi adanya sinyalemen bakal ada pesta seks yang dilakukan komunitas gay dan lesbian, sumber mengaku tidak mengetahui secara persis.

Namun yang jelas kata sumber, komunitas LGBT sering bertemu di beberapa titik hotspot.

“Kalau mereka ketemu di tempat terbuka. Kalau ada rencana mau pesta khusus, pasti nggak mungkin di tempat yang mereka jadikan lokasi nongkrong, mereka mungkin cari hotel atau tempat yang dianggap tidak terendus,” katanya lagi.

Mengenai jumlah lesbian, sumber mengaku tidak mendapatkan data yang valid. Namun diperkirakan, jumlahnya tidak jauh berbeda dengan gay atau dalam bahasa aktivis HIV-AIDS, dikenal dengan komunitas Lelaki Suka Lelaki (LSL).

“Kalau lesbian biasanya lebih tertutup. Tapi jumlahnya tidak jauh beda. Kalau LSL atau gay sekitar 400-an, mungkin lesbian sekitar 300-an jumlahnya,” tandasnya. (sumber: kiblat)

Silakan komentar disini...