Cerita Radio Pertama Nusantara, Kandang Kambing dan Belanda

273
radio
SEBELUM Radio Republik Indonesia lahir, telah muncul radio milik orang Indonesia Solosche Radio Vereeniging di Solo pada zaman pra-kemerdekaan. CNN INDONESIA/M ANDIKA PUTRA

SultengTerkini.Com, SOLO- Radio Repubik Indonesia (RRI) bukan radio pertama milik orang Indonesia. Alih-alih, pemancar Solosche Radio Vereeniging (SRV) di Solo, Jawa Tengah menyiarkan radio pertama kali di Nusantara belasan tahun sebelum Indonesia merdeka.
Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo (KGPAA) Mangkunegoro VII adalah sosok penting dibalik terbentuknya SRV pada 1933. Pemikirannya yang modern, kecintaannya terhadap penyiaran dan kepemilikan modal adalah beberapa faktor yang melahirkan radio itu.

Mengutip buku Mengkunegoro VII & Awal Penyiaran Indonesia karya Hari Wiryawan, ketertarikan Mangkunegoro VII dalam pada bidang penyiaran berawal ketika menerima persembahan dari orang Belanda berupa pesawat radio penerima yang disebut reciver pada 1927. Sejak itu, ia meminta Kepala Dinas Pekerjaan Umum Praja Mangkunegaran, Raden Mas Ir Sarsito Mangunkusumo untuk mengelola stasiun radio.

Mangkunegoro VII semakin tertarik dengan teknologi radio ketika mendengar Pidato Ratu Wilhelmina yang disiarkan langsung dari Laboratorium Philips di Kota Eindhoven, Belanda. Kala itu, sang priayi mendengar di Prangwedanan di kawasan Istana Pura Mangkunegaran, ditemani Permaisuri Gusti Kanjeng Ratu Timur dan anaknya, Gusti Raden Ayu Siti Nurul Kamaril Ngasarati Kusumowardhani (Gusti Nurul).

Satu Istana Pura Mangkunegaran kala itu takjub dengan teknologi radio. Mereka terkagum sekaligus bertanya-tanya bagaimana bisa suara orang yang berada di negara yang amat jauh dari Indonesia bisa terdengar secara langsung.

Peneliti sejarah penyiaran Hari Wiryawan mengatakan visi Mangkunegoro VII untuk melawan budaya kebaratan yang masuk ke Indonesia semakin kuat sejak itu. Ia mulai mengawali perlawanan dengan memproduksi lagu-lagu tradisional dengan format piringan hitam bermerek Columbia GLX.

Ternyata, produksi piringan hitam tidak maksimal karena durasi piringan hitam hanya sebentar. Sementara lagu tradisional Jawa yang banyak menggunakan gamelan bisa memakan waktu berjam-jam.

Setelah itu, kata Hari, Mangkunegoro VII melirik radio sebagai senjata melawan budaya kebaratan. Ia merintis stasiun radio dengan membeli pemancar tua milik Djocjchasche Radio Vereeniging, radio swasta milik Belanda di Yogyakarta.

Pemancar itu diberikan pada sebuah perkumpulan seni bernama Javansche Kuntskring Mardiraras Mangkunegaran. Perkumpulan itu menyiarkan lagu-lagu Jawa yang dimainkan dengan gamelan dengan call sign PK2MN. PK adalah kode radio amatir Jawa Tengah dan MN adalah kode Mangkunegaran.

“Karena teknologi semakin berkembang, pemancar itu semakin buruk kualitasnya. Mangkunegoro VII terus berbenah agar PK2MN semakin baik, selain itu Sarsito meminta dibelikan pemancar baru,” kata Hari.

Mangkunegoro VII mempercayakan Sarsito untuk urusan radio dan menunjuk sebagai pimpinan proyek pengadaan pemancar baru. Saat itu juga, Sarsito meminta melibatkan masyarakat luas untuk proyek ini.

Pada Jumat, 1 April 1933, rapat pengadaan pemancar baru diselenggarakan di Gedung Societeit Sasana Soeka (kini Monumen Pers Nasional). Rapat itu dihadiri Sarsito, RM Soetarto Hardjowahono, Lim Tik Liang, RT Dr Marmohoesodo, Tjan Ing Tjwan, Louwson, Wongsohartono, Tjiong Joe Hok dan Prijohartono

Mengutip buku Mengkunegoro VII & Awal Penyiaran Indonesia, Sarsito, yang berperan sebagai pembicara pertama pada rapat tersebut, berkata, “Pendirian pemancar baru yang modern sangat penting bagi martabat bangsa Nusantara. Lewat pemancar baru nanti akan dilestarikan dan dikumandangkan kesenian Nusantara.”

Pucuk dicita ulam pun tiba. Bukan hanya membeli pemancar baru, hasil rapat itu juga menyepakati pendirian lembaga penyiaran baru yang diberi nama Solosche Radio Vereeniging (SRV). Sarsito didapuk sebagai ketua SRV.

Setiap orang yang hadir dalam rapat itu menyisihkan uang sebanyak f1 (Rp1) hingga terkumpul f9 (Rp9). Uang itu dikumpulkan sebagai uang kas untuk membeli pemancar baru.

Semenjak terbentuk kepengurusan resmi SRV, banyak anggota baru yang mendaftar. Namun, uang kas yang terkumpul hanya mencapai f600 (Rp600). Sementara Perusahaan Telpon dan Telegraph Pemerintah Hindia Belanda (PTT) di Bandung menjual pemancar seharga f1.500 (Rp1.500).

SRV meminta bantuan pada Mangkunegoro VII untuk menanggung kekuarangan. Tokoh budaya itu pun bersedia menanggung kekurangan demi terbentuknya radio pertama milik orang Indonesia. Akhirnya, pemancar itu tiba di Solo pada 5 Januari 1934 dan langsung digunakan untuk siaran.

“Jadi siaran pertama SRV dengan jangkauan luas itu 5 Januari 1934. Sejak itu banyak siaran-siaran dengan konten budaya Jawa. Tapi karena belum punya studio, akhirnya menumpang sementara di Pendopo Kepatihan Mangkunegaran atas izin Patih Mangkunegaran KRMT Sarwoko Mangunkusumo,” kata Hari.

Pada 28 Maret 1937, Mangkunegoro VII juga membentuk organisasi bernama Perikatan Perkumpulan Radio Ketimuran (PPRK) agar semakin kuat melawan budaya kebaratan. Sebelumnya SRV juga sudah memiliki cabang di daerah lain.

Cabang SRV di antaranya adalah Voro Jakarta (8 April 1994), VORL Bandung (30 April 1934), Radio Semarang (1936), MAVRO (Yogyakarta – 8 Februari 1934) dan beberapa cabang lain. Semua radio itu tergabung dalam PPRK.

SRV direbut Jepang, RRI Lahir

SRV yang berada di masa keemasan harus menelan pil pahit ketika Jepang datang ke Indonesia pada 1942. Jepang merebut SRV dan hampir semua radio di Indonesia untuk berkomunikasi.

Jepang memberi nama Hoso Kanri Kyoku untuk siaran skala nasional dan Hoso Kyoku untuk siaran lokal. Mereka memakai alat-alat radio yang sebenarnya milik Indonesia.

“Pada 11 September 1945, Raden Maladi menginisiasi pembentukan RRI. Bersama insan penyiaran yang berkecimpung di radio ketimuran,” kata Hari.

Perjuangan belum selesai sampai di situ. Agresi Militer Belanda II pada 1948-1949 juga membuat sulit insan penyiaran walau sudah merdeka. Mereka pun menghadap pemerintah pusat untuk mengambil alih aset-aset radio di sejumlah daerah sebelum direbut Belanda.

Meski demikian, kata Hari, pemerintah pusat saat itu malah melarang insan penyiaran. Mereka berpikir sekutu akan datang semakin banyak ketika mengetahui aset-aset radio sudah diambil lebih dulu oleh pejuang penyiaran.

“RRI seakan tak peduli dengan kata pemerintah pusat, mereka tetap mengambil lebih dulu aset radio, seperti di Solo dan Surabaya,” kata Hari.

Aksi tersebut berbuah sebuah peristiwa mengungsikan pemancar radio di kandang kambing. Kini, pemancar yang sempat diungsikan di kandang kambing untuk siaran itu masih ada di Monumen Pers Nasional.

Aksi Lincah Gusti Nurul

Bila Mangkunegoro VII diibaratkan sebagai dalang dalam pendirian SRV, Gusti Nurul adalah wayang diarahkan oleh ayahnya. Anak satu-satunya Mangkunegoro VII dari Permaisuri Gusti Kanjeng Ratu Timur itu sering beraksi dalam berbagai acara penting SRV.

Aksi paling menarik dari perempuan kelahiran 1921 ini adalah ketika menari Bedaya Srimpi di di Istana Noordeinde, Belanda, dalam pernikahan Putri Juliana dan Pangeran Bernhard. Ia menari dengan iringan gamelan yang disiarkan langsung dari Solo pada 28 Desember 1936.

Bila pada 1927 Belanda membuat Indonesia takjub dengan Pidato Ratu Wilhelmina, sembilan tahun kemudian Indonesia membuat Belanda kagum dengan tarian yang diiringi gamelan secara langsung.

Masih ada perdebatan mengenai jenis tarian yang diperagakan Gusti Nurul. Hari mengatakan tarian itu Bedaya Srimpi, sementara Kepala Divisi Konservasi dan Narasi Museum Universitas Sebelas Maret Susanto mengatakan tarian itu Sri Tunggal.

“Saya sendiri sudah ketemu Gusti Nurul di Bandung, untuk memastikan bawha itu tarian Sri Tunggal, bukan Bedaya Srimpi. Tarian Bedaya Srimpi itu berempat, di Belanda beliau menari sendiri,” kata Susanto.

Lebih dari penari yang diringi suara dari SRV, Gusti Nurul adalah saksi sejarah penyiaran Indonesia. Buku Mengkunegoro VII & Awal Penyiaran Indonesia juga mencatat bahwa Gusti Nurul hadir dalam acara-acara penting SRV.

Gusti Nurul meresmikan Gedung SRV (kini Gedung RRI Solo) saat peletakan batu pertama pada 15 September 1935 dan 29 Agustus 1936. Ia juga memberikan sambutan untuk meresmikan penggunaan pemancar baru pada 18 November 1939.

“Saya tidak banyak tahu, saya hanya melaksanakan apa perintah romo [Mangkunegoro VII]. Saya ini kan cuma kelinci percobaan,” kata Gusti Nurul kepada Hari, saat wawancara di kediamannya di Dago, Bandung, tahun 2006.

Gusti Nurul meninggal pada 10 November 2015 lalu di RS. Boromeus, Bandung. Pada usia 94 tahun, Gusti Nurul meninggalkan 7 orang anak dan 14 orang cucu dari pernikahannya dengan Soerjo Soejarso.

(sumber: cnnindonesia.com)

Silakan komentar disini...