IPW Sebut Napi di Mako Brimob Rebut 7 Senpi dan Sandera Polwan

205
brimob
FOTO: GRANDYOS ZAFNA/DETIKCOM

SultengTerkini.Com, JAKARTA– Napi teroris merusuh dan menyandera sejumlah anggota Polri di Rutan Mako Brimob. Para napi juga dilaporkan berhasil merebut senjata api milik anggota Polri.
“Para napi juga berhasil merampas senjata polisi dan menyandera empat polisi, yang satu di antaranya wanita berpangkat iptu. Informasi yang saya terima, ada tujuh senjata api laras panjang yang direbut oleh para napi,” kata Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane kepada detikcom, Rabu (9/5/2018).

Informasi yang diperoleh IPW, disebutkan Neta, kerusuhan terjadi sejak Selasa (8/5) sore sekitar pukul 15.30 WIB. Situasi tidak cepat dikendalikan sehingga situasi rusuh semakin panas.

“Polri tidak dengan cepat mengatasi situasi tersebut sejak Selasa (8/5) sore. Akibatnya, pada pukul 21.00 WIB, napi teroris berhasil menjebol terali tahanan,” imbuhnya.

Ia juga menyebutkan ada empat anggota Polri yang disandera. Salah satunya adalah seorang Polwan.

“Dalam kekacauan itu terjadi aksi tembak-menembak antara polisi dan napi yang menguasai rutan. Pukul 06.00 WIB, sejumlah ambulans tiba di rutan dan terlihat sejumlah orang dibawa dengan ambulans. Pukul 09.30 WIB, mobil DVI terlihat masuk ke rutan Brimob,” papar Neta.

Ia mengimbau Polri segera memberikan keterangan secara transparan kepada publik terkait situasi di Rutan Mako Brimob.

“Info yang saya terima, ini bisa dipertanggungjawabkan, untuk itu Polri harus memberikan penjelasan secara transparan mengenai situasi di lokasi, berapa jumlah korban, dan lain sebagainya. IPW mengimbau kepolisian harus menjelaskan peristiwa ini dengan transparan tentang apa yang terjadi, tentang berapa korban tewas dan luka dalam kekacauan itu, dan tentang senjata api polisi yang dirampas napi teroris,” tuturnya.

Ia katakan perebutan senjata api dari polisi oleh teroris menjadikan situasi sulit dikendalikan. “Sebab, dari informasi yang diperoleh, ada lima sampai tujuh unit senjata api polisi yang dirampas napi teroris dan inilah yang membuat polisi kesulitan mengendalikan situasi karena para napi melakukan perlawanan sengit dengan senjata api rampasan,” imbuhnya.

IPW menyampaikan keprihatinannya atas peristiwa itu. Ini adalah kekacauan yang kedua di Rutan Mako Brimob.

“Dan kekacauan ini terjadi beberapa saat setelah Brimob memunculkan kontroversi karena berpatroli mengamankan kantor-kantor partai politik di Semarang. Bagaimana Brimob bisa berpatroli menjaga kantor orang lain, sementara menjaga markasnya sendiri kebobolan. Bagaimana Brimob bisa diharapkan maksimal menjaga pilkada serentak, menjaga markasnya sendiri saja kebobolan. Dengan adanya kekacauan di Rutan Mako Brimob ini, Kapolri sudah saatnya mengevaluasi jabatan Dankormar Brimob sehingga kekacauan tidak terulang lagi di Rutan Brimob,” tandasnya.

Sementara ini belum ada penjelasan dari pihak Polri terkait berapa orang yang menjadi korban luka maupun tewas. Polri juga belum menyebutkan jumlah polisi yang disandera oleh para napi teroris itu.

Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen M Iqbal hanya menyampaikan situasi telah terkendali. Ia tidak menampik ataupun membenarkan adanya kabar penyanderaan itu.

“Kita belum bisa sampaikan itu, bahwa sekarang masih proses negosiasi,” kata Iqbal ketika ditanya tentang ada-tidaknya anggota kepolisian yang disandera di Mako Brimob, Rabu (9/5/2018).

(sumber: detik.com)

 

Silakan komentar disini...