Fakta-fakta Berakhirnya Tragedi Penyanderaan di Mako Brimob

159
gegana
KONDISI rutan Mako Brimob pagi ini. FOTO: AUDREY SANTOSO/DETIKCOM

SultengTerkini.Com, DEPOK– Setelah sekitar 36 jam, kerusuhan berujung penyanderaan yang diakibatkan ulah napi teroris di Mako Brimob berhasil ditanggulangi. Ada sejumlah fakta yang diungkap setelah proses penanggulangan selesai.
“Operasi sudah berakhir pada pukul 07.15 WIB tadi,” kata Wakapolri Komjen Syafruddin dalam jumpa pers di Mako Brimob, Depok, Jawa Barat, Kamis (10/5/2018).

Seluruh napi teroris kini dipindahkan ke Lapas Nusakambangan. Berikut fakta-fakta berakhirnya penanggulangan narapidana di Mako Brimob:

Apa yang terjadi?

Kerusuhan terjadi di Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat, sejak Selasa sore (8/5). Kerusuhan ini terjadi akibat ulah para narapidana.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada rakyat Indonesia yang memberikan dukungan, doa, support dan sebagainya yang mengalir sejak kejadian pada Selasa pukul lima sore (17.00 WIB) melalui media secara langsung, maupun tidak langsung, saya ucapkan terima kasih atas dukungannya,” ujar Wakapolri Komjen Syafruddin, Kamis (10/5/2018).

Ada berapa narapidana yang terlibat kerusuhan?

Ternyata ada ratusan teroris yang terlibat kerusuhan ini. Mereka merebut senjata dan menyandera polisi.

“Jadi yang melakukan seluruh tahanan jumlahnya 156 orang melakukan penyanderaan terhadap sembilan anggota Polri,” kata Wakapolri Komjen Syafruddin dalam jumpa pers di Markas Direktorat Polisi Satwa Baharkam Polri, Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat, Kamis (10/5/2018).

Apa upaya yang dilakukan polisi?

Wakapolri Komjen Syafruddin memastikan operasi penanganan rusuh di Mako Brimob berakhir setelah 36 jam. Syafruddin menyatakan para polisi tetap dingin meski 5 rekannya dibunuh dengan keji.

“Polri menangani sepersuasif mungkin dan berkepala dingin. Saya menekankan ke tim untuk berkepala dingin meski temannya jadi korban pembunuhan,” ujar Syafruddin di Mako Brimob, Kamis (10/5/2018).

Ratusan polisi terlibat dalam proses penanggulangan teroris ini. Lingkungan sekitar Mako Brimob pun diamankan.

Apa penyebab kerusuhan tersebut?

Polisi mulanya menyatakan bahwa penyebab kerusuhan adalah makanan. Namun belakangan diketahui ada tuntutan lain dari para teroris itu.

Pihak Polri membenarkan napi teroris yang menyandera 1 anggota Densus 88 di Mako Brimob menuntut sejumlah hal, salah satunya bertemu terdakwa teroris bom Thamrin, Aman Abdurrahman. Apa alasannya?

“Ya biasa, itu kan sebagai pimpinannya,” kata Kadiv Humas Polri Irjen Setyo Wasisto di Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat, Rabu (9/5/2018).

Ditanya apakah Aman menuntut dibebaskan, Setyo menampik. Menurut dia, para napi teroris ini hanya ingin bertemu Aman.

Apa yang dilakukan para teroris?

Para teroris menyandera polisi. Lima polisi gugur setelah disandera para teroris. Sementara ada satu polisi yang bebas.

“Yang jelas, dari 5 rekan-rekan yang gugur, mayoritas luka akibat senjata tajam di leher. Saya ulangi, akibat senjata tajam di leher. Luka itu sangat dalam,” kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri Brigjen M Iqbal di Mako Brimob, Rabu malam (9/5/2018).

Para teroris juga merampas senjata polisi. Mereka juga merebut kembali bom hasil sitaan. Selain itu para teroris juga sempat merakit bom.

“Mereka selama 40 jam melakukan penyanderaan dan mereka juga melakukan kegiatan-kegiatan perakitan bom dan sebagainya. Itu tadi yang diledakkan adalah hasil-hasil bom yang sudah berhasil dirakit,” kata Syafruddin di Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat, Kamis (10/5/2018).

Ada sekitar 40 teroris yang disebut menjadi provokator. Polisi menyebut mereka berasal dari aliran keras.

Bagaimana akhir dari penanggulangan kerusuhan?

Ada dua jenis penanganan yang dilakukan polisi dalam penanganan penyanderaan di Mako Brimob. Pendekatan halus dilakukan untuk 145 teroris yang menyerah tanpa syarat. Serangan harus dilakukan untuk 10 sisanya yang masih bertahan.

“Pada fajar hari ini adalah batas yang kita tentukan dan mereka menyerah tanpa syarat. 145 tahanan menyerah tanpa syarat,” ujar Menkopolhukam Wiranto dalam konferensi pers di Kompleks Mako Brimob, Kamis (10/5/2018).

Ke mana para teroris dipindahkan setelah kerusuhan?

Sebanyak 155 tahanan terorisme telah menyerahkan diri setelah memberontak di Mako Brimob. Mereka lalu dipindahkan.

“Seluruh tahanan yang telah menyerahkan diri sudah diambil langkah-langkah untuk pemindahan tahanan,” kata Wakapolri Komjen Syafruddin dalam jumpa pers di Mako Brimob, Depok, Kamis (10/5/2018).

“Dipindahkan ke Nusakambangan. Sedang dalam perjalanan, seluruhnya,” imbuh dia.

Bagaimana para teroris mendapatkan senjata?

Para teroris mendapatkan senjata dengan merampas dari polisi. Ada sekitar 30 pucuk senjata yang dirampas.

“Mereka merampas sekitar 30 pucuk senjata. Senjata hasil sitaan dari aparat kepolisian lawan terorisme sebelumnya,” kata Menko Polhukam Wiranto dalam jumpa pers di Mako Brimob, Depok, Kamis (10/5/2018).

Kadiv Humas Polri Irjen Setyo Wasisto belum mengetahui informasi dari mana para napi mendapatkan senjata tajam. Dia masih menunggu informasi dari tim negosiasi.

Setyo menduga senjata tajam itu sudah disiapkan sejak sebelum kerusuhan terjadi. Namun belum diketahui dari mana senjata tajam itu berasal.

“Katanya begitu (sudah disiapkan sejak awal kerusuhan, red), di dalam mungkin udah disiapin,” ujarnya.

Siapa saja yang menjadi korban jiwa?

Seorang polisi bernama Bripka Iwan Sarjana bebas setelah 29 jam disandera. Sementara itu ada 5 anggota polisi yang disandera. Berikut nama-namanya:

1. Iptu Luar Biasa Anumerta Yudi Rospuji Siswanto
2. Aipda Luar Biasa Anumerta Denny Setiadi
3. Brigadir Luar Biasa Anumerta Fandy Setyo Nugroho
4. Briptu Luar Biasa Anumerta Syukron Fadhli
5. Briptu Luar Biasa Anumerta Wahyu Catur Pamungkas

Adapun dari pihak narapidana yang tewas adalah Abu Ibrahim alias Beny Syamsu.

(sumber: detik.com)

Silakan komentar disini...