Padamu Negeri, di Lahan Cabai Kami Mengabdi

107
FOTO ISWANTO
ISWANTO, petani muda di Kelurahan Sisipan Kecamatan Batui, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah memanen cabai di lahannya. FOTO: AGUS PANCA SAPUTRA

Menjadi petani atau bertani, adalah salah satu pekerjaan yang kurang diminati masyarakat saat ini. Tak sedikit orang yang menganggap bahwa bertani adalah pekerjaan kotor, melelahkan dan rentan dengan kemiskinan.

Karena tak diminati, petani akhirnya menjadi kasta terendah di negeri ini.

OLEH: AGUS PANCA SAPUTRA*

Sebagian masyarakat utamanya masyarakat usia produktif lebih memilih menjadi pekerja di sektor lain di luar sektor pertanian.

Bagi yang pendidikannya kurang, menjadi kuli bangunan, buruh angkut atau karyawan kantor swasta bahkan honorer pemerintah dianggap lebih menjanjikan dalam upaya pemenuhan kebutuhan hidup.

Sebab, pekerjaan tersebut memperoleh hasil yang relatif singkat. Kuli bangunan atau buruh bisa mendapatkan penghasilan setiap akhir pekan atau setiap awal bulan.

Berbeda dengan sektor pertanian, dimana hasilnya baru bisa dirasakan setelah tiga bulan, satu tahun bahkan lima tahun.

Itulah mengapa sektor pertanian semakin ditinggalkan. Dengan ditinggalkannya sektor ini, maka tak sedikit lahan produktif menjadi telantar.

Iswanto, pemuda asal Kelurahan Tolando, Kecamatan Batui, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah memiliki pemikiran yang  berbanding terbalik dengan pemikiran orang kebanyakan.

Iswanto menganggap bahwa sektor pertanian tetap menjanjikan kesejahteraan. Apalagi, ditengah berkurangnya produksi pertanian dan meningkatnya jumlah konsumen karena seluruh pekerja sektor lain wajib mengonsumsi hasil pertanian, membuat bisnis pertanian semakin menguntungkan.

Sebagaimana berlakunya hukum ekonomi, produksi sedikit dan konsumen banyak, maka harga akan cenderung mengalami kenaikan.

Peluang ini mendorong Iswanto untuk serius menggarap sektor pertanian. Ia kemudian mengumpulkan rekan-rekan sebayanya untuk memanfaatkan momentum perbaikan kualitas hidup serta menjadi inspirator masyarakat di sekelilingnya. Dengan bertani, Iswanto dan rekan-rekannya mengabdikan diri bagi negeri.

Iswanto dan 15 pemuda kemudian membentuk sebuah kelompok tani yang diberi nama Inautan atau yang dalam bahasa daerah Batui berarti Ayo Berkebun!. Kelompok tani ini memilih cabai sebagai tanaman andalannya, karena tanaman ini cocok dengan struktur tanah lokasi pertanian mereka serta menjadi tanaman wajib konsumsi masyarakat setempat.

Cabai menjadi wajib karena kebiasaan masyarakat Banggai adalah mengonsumsi makanan pedas. Semakin pedas semakin enak. Hal ini berbeda dengan kebanyakan masyarakat Pulau Jawa yang membuat sambal dicampur gula.

Karena menjadi bahan dapur utama masyarakat, Iswanto dan rekan-rekannya tak kesulitan dalam memasarkan hasil pertaniannya.

Kelompok Tani Inautan terdiri dari pemuda usia 22-35 tahun. Sebelumnya, mereka adalah pekerja di sebuah perusahaan gas di Kabupaten Banggai, PT Donggi Senoro Liquefied Natural Gas (DSLNG).

Di awal pendiriannya, PT DSLNG merekrut ribuan masyarakat Kabupaten Banggai dalam proses pembersihan dan penyiapan lahan atau istilah kerennya, land clearing.

Seiring dengan berakhirnya proses land clearing, maka perusahaan kemudian melakukan pengurangan tenaga kerja.

Iswanto dan rekan-rekannya pun terkena imbas pengurangan tenaga kerja ini. Tak butuh waktu lama untuk mereka menjadi pengangguran.

Saat mereka berkumpul, terbesitlah ide pembentukan kelompok tani pemuda dan kemudian semuanya setuju dengan pemberian nama Inautan untuk kelompoknya.

Untuk memudahkan usaha mereka, Kelompok Tani Inautan kemudian mengajukan permohonan bantuan ke perusahaan tempat awal mereka bekerja.

Ternyata, PT Donggi Senoro LNG sangat merespon kesungguhan kelompok tani tersebut. Akhirnya, pengurus dan anggota Kelompok Tani Inautan diberikan pelatihan-pelatihan bertani serta bantuan lainnya.

Bahkan untuk meningkatkan usaha kelompok, PT DSLNG menempatkan seorang ahli di bidang pertanian yang senantiasa memberikan ilmu pertaniannya di kelompok tersebut.

Dengan semangat yang tinggi, Kelompok Tani Inautan awalnya membuka lahan seluas satu hektar untuk dijadikan lahan percontohan. Lahan percontohan ini kemudian ditanami cabai putih yang akrab disebut Cabai Gorontalo.

Hasilnya cukup memuaskan. Dalam sepekan, kelompok tani ini bisa memanen 40 kilogram cabai. Semakin hari, usaha Kelompok Tani Inautan terus berkembang. Kelompok ini sekarang tak hanya mengandalkan satu lahan percontohan di Kelurahan Sisipan, Kecamatan Batui.

Setiap anggota bahkan telah menggarap lahannya masing-masing yang terletak di Kelurahan Sisipan dan Kelurahan Tolando, Kecamatan Batui serta di Kelurahan Tangkiang, Kecamatan Kintom.

Dalam memasarkan hasil pertaniannya, Kelompok Tani Inautan juga tidak kesulitan. Setiap kali panen, produksi cabai kemudian dijual ke stocking point yang terletak di Kecamatan Kintom, Kabupaten Banggai.

Stocking Point ini dibangun oleh PT DSLNG yang bertujuan mengumpulkan seluruh hasil pertanian masyarakat guna mencegah munculnya tengkulak.

Di Stocking Point ini, hasil panen petani dibeli dengan harga pasar. Dengan adanya Stocking Point ini, petani sangat terbantu karena harganya tidak ditekan sebelah pihak oleh tengkulak.

Selain itu, Stocking Point juga akan menyerap seluruh panen petani, sehingga tidak ada hasil panen yang membusuk karena tak terjual.

“Kami tak hanya bertani saja. Tapi kami juga mengajak orang-orang untuk memanfaatkan lahan tidurnya dan menjadi petani. Kami mengajarkan ilmu yang kami peroleh dari pelatihan-pelatihan di DSLNG kepada masyarakat, sehingga hasil pertaniannya ikut meningkat,” kata Iswanto tentang motivasinya membentuk Kelompok Tani Inautan.

Ucapan Iswanto tersebut bukan isapan jempol. Iswanto dan rekan-rekannya membuktikan apa yang mereka inginkan, yakni terkelolanya lahan-lahan tidur di Kecamatan Batui dan terwujudnya petani yang sejahtera.

Kelompok Tani Inautan ini juga memberi contoh kepada masyarakat tentang penggunaan pupuk organik yang bahan bakunya tersedia di lingkungan masyarakat setempat.

Kelompok ini juga mengampanyekan bahaya penggunaan pupuk dan racun kimia terhadap tanah, tanaman dan kesehatan masyarakat.

“Kami diajarkan tentang membuat pupuk organik yang bahan bakunya dari air cucian beras, daun sirsak, daun serai, bawang putih, bonggol pisang atau akar bambu. Hasilnya sangat memuaskan. Tanah dan tanaman menjadi subur. Kami pun menjadi sehat karena tidak terkontaminasi bahan kimia,” ujarnya.

FOTO 2
INILAH Inautan POC ukuran satu liter. Pupuk buatan Kelompok Tani Inautan ini nantinya dikomersilkan untuk tambahan pendapatan kelompok. FOTO: SOFYAN SYAMSUDDIN

Wakil Ketua Kelompok Tani Inautan, Sofyan Syamsuddin juga mengucapkan hal yang sama. Menurut Pian-sapaan akrabnya-, Kelompok Tani Inautan didirikan bukan hanya sekadar menjadi batu loncatan pemuda yang terkena dampak pengurangan tenaga kerja di PT DSLNG.

Tetapi lebih dari itu, Kelompok Tani Inautan menjadi inspirator dan motivator kepada masyarakat setempat.

“Sektor pertanian memang menjanjikan keuntungan. Tapi kami juga mengajak masyarakat agar memanfaatkan lahan tidurnya dan menjadi petani yang sejahtera,” tegas Pian.

Ia menuturkan, Kelompok Tani Inautan memanfaatkan bahan-bahan organik yang mudah diperoleh serta limbah rumah tangga seperti gelas air mineral dalam bertani.

Gelas air mineral, kata Pian, sangat bagus untuk dijadikan tempat bibit.

“Setiap ada pesta atau ada acara, kami selalu mengumpulkan gelas air mineral yang berserakan. Gelas itu kemudian kami lubangi dan kami jadikan tempat bibit. Setelah bibitnya bisa dipindahtanam, kemudian kami bagi-bagikan ke tetangga agar tumbuh semangat bertaninya dan memanfaatkan lahan pekarangannya dengan tanaman produktif,” jelas Pian.

Bukan itu saja, lanjut Pian, Kelompok Tani Inautan saat ini telah berhasil menciptakan Pupuk Organik Cair (POC) dalam kemasan botol satu liter. Pupuk ini kemudian diberi label Inautan POC.

“Untuk sementara, pupuk ini belum diperjualbelikan. Pupuk ini kami bagi-bagikan kepada petani. Tetapi kedepannya, pupuk ini bisa dikomersilkan untuk tambahan pendapatan kelompok,” sebutnya.

Dalam membuat POC itu, kata Pian, Kelompok Tani Inautan didampingi oleh tenaga ahli yang dibiayai oleh PT Donggi Senoro LNG.

Menurut Pian, apa yang mereka lakukan saat ini adalah bentuk pengabdian kepada masyarakat.

“Alhamdulillah sudah banyak masyarakat yang berubah pola pikirnya. Pelan-pelan, masyarakat mulai memanfaatkan lahannya atau minimal lahan pekarangannya. Tidak perlu menjadi PNS untuk kita bisa mengabdi. Menjadi petani pun, kita bisa mengabdikan diri untuk negeri,” singkatnya.

BANTUAN DSLNG

Sebagai tanggung jawab perusahaan terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar, PT Donggi Senoro LNG sangat antusias dalam membantu petani.

Sejak tahun 2015, PT Donggi Senoro LNG bahkan telah memetakan berbagai persoalan yang kerap menghambat ekonomi petani.

Setelah dipetakan, ternyata permasalahan yang ditemukan adalah; minimnya permodalan dan pendapatan petani yang terbilang rendah.

Kedua, lokasi lahan yang berpindah-pindah serta masih menggunakan peralatan tradisional, hanya mengandalkan musim tanam, kelembagaan kelompok yang masih minim serta kurangnya pengetahuan masyarakat tentang ilmu pertanian.

Dari permasalahan tersebut, PT Donggi Senoro LNG bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Banggai serta sejumlah organisasi swadaya masyarakat kemudian memperoleh solusi atas permasalahan tersebut.

Sejumlah bentuk solusi seperti pemberian bantuan bibit, pemberian sarana produksi pertanian (Saprotan), pelatihan dan penguatan kapasitas petani, penguatan kelembagaan dan jaringan kelompok, pemasaran hasil pertanian dan pendampingan rutin kepada kelompok tani telah dilakukan PT Donggi Senoro LNG.

Hasilnya sangat memuaskan. Hingga tahun 2017, atau dua tahun sejak pemetaan permasalahan pertanian tersebut, terbentuklah 19 kelompok tani kategori bertumbuh dan tujuh kelompok tani kategori berkembang di Kabupaten Banggai.

Dari segi pendapatan petani, trennya pun cenderung naik. Pada Bulan Juli 2017, pendapatan kelompok tani bahkan mencapai Rp 180 juta.

Media Relations and Public Communication Lead PT Donggi Senoro LNG, Doty Damayanti menyebut, identifikasi dan pemetaan akan kebutuhan kelompok tani dilakukan melalui pertemuan antar kelompok tani, pertemuan di tingkat desa serta verifikasi langsung di masing-masing kelompok.

“Bantuan yang diberikan PT Donggi Senoro LNG kepada kelompok tani bervariasi, disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing kelompok,” tutur Doty Damayanti.

Doty berharap bantuan yang diberikan PT Donggi Senoro LNG tersebut bisa memacu semangat petani, sehingga menjadi petani yang mandiri, maju dan sejahtera. ***

*Penulis adalah Pemimpin Redaksi SultengTerkini.Com. Tulisan ini dikhususkan untuk diikutsertakan dalam Anugerah Jurnalistik DSLNG 2018.

Silakan komentar disini...