Media Gathering BI di Manado; Penyuling Cap Tikus pun Perlu Disejahterakan

375
WhatsApp Image 2018-11-23 at 00.14.25
MANAGER Fungsi Koordinasi dan Komunikasi Kebijakan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sulawesi Tengah, Rivo Mandey menyerahkan cenderamata kepada Pemimpin Redaksi Tribun Manado, Sigit Sugiharto didampingi 10 jurnalis Kota Palu, Kamis (22/11/2018). FOTO: KRISTO

SultengTerkini.Com, MANADO– Acapkali berita ekonomi di media massa cenderung datar atau menampilkan angka-angka yang sulit dipahami pembaca. Akhirnya, berita ekonomi menjadi tidak menarik.

Padahal, informasi ekonomi suatu daerah memiliki peranan penting sebagai tolok ukur tumbuh kembang daerah tersebut.

Pemimpin Redaksi Tribun Manado, Sigit Sugiharto didampingi Manajer Liputan Charles Komaling dan Redaktur, Fernando Lumowa mengatakan, Tribun Manado kerap menyajikan berita ekonomi sebagai berita opening halaman satu.

Menurut Sigit, berita ekonomi tidak mesti berada di halaman belakang. Berita ekonomi bisa menjadi berita utama dan diulas berhari-hari tergantung dari sejauhmana berita ekonomi itu mampu mempengaruhi peningkatan kesejahteraan masyarakat dan pembangunan daerah.

Sigit mencontohkan, pada terbitan Tribun Manado edisi Kamis, 22 November 2018, Tribun Manado menerbitkan berita utama berjudul “Vodka Sulut Bidik Pasar ASEAN”.

Dalam berita ini, Tribun Manado mengupas tentang nasib para petani nira yang memproduksi minuman keras jenis Cap Tikus.

Selama ini, para petani nira di Sulawesi Utara belum mendapat perhatian besar oleh pemerintah setempat. Padahal, kehidupan mereka sangat bergantung dari tanaman yang menjadi bahan baku utama pembuatan gula merah atau gula aren.

Dari hasil penjualan gula merah dan Cap Tikus,  tak sedikit petani nira yang mampu menyekolahkan anaknya hingga perguruan tinggi.

“Home industry Cap Tikus di Sulut ini cukup banyak. Disamping menghasilkan Cap Tikus, para petani nira juga menghasilkan produk turunannya seperti gula merah atau gula aren. Karena tak ada penampung besar Cap Tikus, akhirnya minuman ini diselundupkan di kota-kota lain seperti di Palu atau Gorontalo. Di daerah lain, Cap Tikus menjadi masalah, karena ilegal,” kata Sigit di depan 10 jurnalis Kota Palu dan pejabat Bank Indonesia Perwakilan Sulteng di Kantor Harian Tribun Manado, Kamis (22/11/2018).

Berbeda dengan Sulawesi Utara, dimana Cap Tikus bersifat legal karena menjadi minuman tradisional masyarakat setempat.

Ia menambahkan, melalui pemberitaan media, saat ini Bupati Minahasa Selatan, Christiany Eugenia Parunru telah berkomunikasi dengan dengan pemerintah pusat terkait perizinan pabrik Vodka guna menampung hasil produksi penyulingan Cap Tikus di Kabupaten Minahasa Selatan.

Dengan adanya pabrik ini, lanjut Sigit, para penyuling Cap Tikus bisa memasarkan produknya dengan mudah.

“Potensi Cap Tikus di Sulut ini cukup besar. Luas areal tanaman enau atau nira mencapai 5.000 hektar lebih. Dengan adanya pabrik Vodka, maka penyuling Cap Tikus bisa sejahtera. Cap Tikus nantinya akan disuplai ke pabrik dan tidak lagi menjadi barang selundupan,” jelasnya.

Keberadaan pabrik vodka di Minahasa Selatan tentunya membawa angin segar bagi perubahan nasib atau taraf hidup masyarakat setempat.

Meski membuat minuman keras, para penyuling Cap Tikus ini juga perlu disejahterakan.

WhatsApp Image 2018-11-23 at 00.14.42
PARA peserta Media Gathering Bank Indonesia Sulteng 2018 antusias berdiskusi bersama pemimpin Tribun Manado di Ruang Pertemuan Tribun Manado. FOTO: KRISTO

Senada diungkap Redaktur Tribun Manado, Fernando Lumowa. Menurutnya, berita ekonomi sama pentingnya dengan berita lain.

Bahkan, berita-berita ekonomi mampu menjadi referensi bagi pemangku kepentingan dalam memutuskan kebijakan.

“Berita ekonomi ini sangat penting, bahkan menjadi tulang punggung media massa. Tinggal kita harus pintar meramunya, sehingga menarik untuk dibaca,” kata Fernando diamini Charles Komaling.

Editor Ekonomi Media Online Kompas.Com, Bambang P Jatmiko mengatakan, agar berita ekonomi enak dibaca, maka jurnalis harus mampu menerjemahkan angka-angka menjadi sebuah tulisan ringan.

Dengan begitu, masyarakat awam mengerti dengan fakta ekonomi yang terjadi saat ini.

Disamping itu, kata Bambang, pemberitaan ekonomi tidak melulu harus angka-angka. Ada perspektif lain yang bisa diangkat, sehingga berita ekonomi itu menjadi menarik.

“Contohnya, apabila Bank Indonesia menjadi sumber berita, informasi yang ditayangkan tidak melulu berkaitan dengan inflasi atau angka-angka ekonomi. Kita bisa mengambil informasi lain seperti tentang peredaran uang atau peran Bank Indonesia dalam membantu petani guna menjaga kestabilan harga pangan,” ujar Bambang. GUS

Silakan komentar disini...
loading...