BPS Sulteng Rilis Hasil Pendataan Podes 2018

203
WhatsApp Image 2018-12-17 at 21.21.07
KEPALA Bidang Statistik Sosial BPS Sulawesi Tengah Mohammad Wahyu Yulianto saat memaparkan hasil pendataan potensi desa 2018 di wilayahnya kepada sejumlah jurnalis di kantornya Jalan Muhammad Yamin, Palu, Senin (17/12/2018). FOTO: ICHAL

SultengTerkini.Com, PALU– Pihak Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Tengah (Sulteng) merilis hasil pendataan Potensi Desa (Podes) yang dilaksanakan tiga kali dalam 10 tahun di wilayahnya.

Kepala Bidang Statistik Sosial BPS Sulteng, Mohammad Wahyu Yulianto kepada sejumlah jurnalis di kantornya Jalan Muhammad Yamin, Palu, Senin (17/12/2018) mengatakan, berdasarkan hasil Podes 2018, tercatat 2.020 wilayah administrasi pemerintahan setingkat desa di Sulteng yang terdiri dari 1.842 desa, 175 kelurahan, dan 3 UPT/SPT.

“Podes juga mencatat sebanyak 175 kecamatan dan 13 kabupaten/kota,” katanya.

Pihak BPS Sulteng melakukan penghitungan Indeks Pembangunan Desa (IPD) yang menunjukkan tingkat perkembangan desa dengan kategori mandiri, berkembang, dan tertinggal.

Menurutnya, semakin tinggi IPD menunjukkan semakin mandiri desa tersebut. Jumlah desa mandiri 46 (2,50 persen), desa berkembang 1.528 (82,95 persen), dan desa tertinggal 268 (14,55 persen).

Wahyu mengatakan, secara umum, semua dimensi penyusun IPD mengalami peningkatan, kecuali Dimensi Pelayanan Umum.

Dimensi dengan kenaikan tertinggi adalah Penyelenggaraan Pemerintah Desa, yaitu sebesar 9,29 poin.

Sementara dimensi dengan kenaikan terkecil adalah Transportasi, yaitu sebesar 2,15 poin.

Pada bidang ekonomi, keberadaan industri kecil dan mikro yang banyak terdapat di Sulteng menurut jenisnya adalah industri dari kayu yang terdapat di 1.033 desa/kelurahan, selanjutnya industri makanan dan minuman yang terdapat di 793 desa/kelurahan.

Sementara itu, pada tahun 2018 terdapat 366 desa/kelurahan yang memiliki produk unggulan. Produk unggulan ini ada dua macam, yaitu produk makanan dan produk non-makanan.

Ada sebanyak 238 desa/kelurahan yang hanya memiliki produk unggulan makanan, sementara ada 70 desa/kelurahan yang hanya memiliki produk unggulan non-makanan.

Akan tetapi tidak menutup kemungkinan desa/kelurahan memiliki dua macam produk unggulan tersebut, seperti yang terjadi pada 58  desa/kelurahan. “Lebih jauh lagi, ternyata ada 22 desa/kelurahan memiliki produk unggulan yang diekspor ke luar negeri,” pungkas Mohammad Wahyu Yulianto. CAL

Silakan komentar disini...