Kisah Keluarga di Palu Utara yang Bertahan Hidup dari Ubi dan Pisang

490
WhatsApp Image 2019-06-10 at 13.51.20
SAMSUDIN bersama anggota keluarganya tinggal di rumahnya yang tidak layak di Kelurahan Pantoloan, Kecamatan Palu Utara, Kota Palu, Sulawesi Tengah. FOTO: CHANDRA

SEPASANG suami istri di Kelurahan Pantoloan, Kecamatan Palu Utara, Kota Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng) hidup di bawah garis kemiskinan. Bersama lima orang anaknya, mereka hidup bernaung di rumah tak layak huni.

Adalah Samsudin (40) dan Nurhayati (32), pasangan suami istri ini sejak enam tahun terakhir, mereka bertahan dalam kemiskinan.

LAPORAN: CHANDRA

Tak jarang, keluarga ini hanya makan pisang dan ubi karena tak mampu membeli beras.

Samsudin dan keluarganya itu hidup di rumah berukuran 6×4 meter. Saat hujan, air terus merembes dari atap rumah yang bocor.

Sementara di bagian dapur selalu tergenang air karena atap rumbia yang juga sudah bocor.

Kepada tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) Sulteng, Samsudin bercerita jika ia hanya bekerja serabutan. Biasanya ia menjadi buruh bangunan dan mengumpulkan batu di sungai kemudian dijual kepada pembeli batu dan pasir.

Pria kelahiran Bima, Nusa Tenggara Barat ini mengaku terkadang ia bersama anak dan istrinya harus rela menahan lapar karena tidak ada beras untuk dimasak.

Sebagai gantinya, kerap ubi dan pisang jadi pengganti.

Pun dalam kondisi tersebut, Samsudin tak mau dikasihani orangtua angkatnya. Niat membantu itu kerap ditolaknya. Ia mengaku malu jika menerima bantuan, apalagi dari hasil meminta-minta.

“Seringkali kami hanya makan ubi dan pisang. Mama angkat saya selalu tawarkan kami beras, tapi saya tidak ambil. Prinsip saya banyak berdoa dan bersyukur. Dan satu saya tegaskan, jangan mencuri di kondisi apapun,” tegasnya,” kata samsudin ketika tim ACT menyambangi rumah mereka di Pantoloan.

Samsudin juga mengaku jarang memberikan makanan bergizi seperti daging. Jika pun ada, ia mendapatkannya hanya di saat Idul Adha.

“Kalau makan daging hanya setahun sekali, itu pun kalau dikasih saat hari raya kurban,” ucap Samsudin tersenyum.

Dalam kondisi serba kekurangan, Samsudin bertekad memberikan hak pendidikan kepada anak-anaknya. Namun untuk memenuhinya, ia terpaksa menitipkan anak pertama dan kedua pada keluarganya di Kabupaten Buol.

Sementara anak ketiga dan empat adiknya tinggal bersama mereka di rumah tak layak itu.

“Hanya anak ketiga yang mampu saya biayai. Kedua kakaknya terpaksa saya titipkan pada keluarga di Buol,” ujarnya.

Samsudin lantas bercerita tentang masa lalunya, saat kali pertama menginjakkan kaki di tanah Kaili, Kota Palu. Perantau itu bekerja serabutan.

Beberapa kali menjadi buruh bangunan, kemudian menjadi penjaga toko di Palu. Di saat itulah ia bertemu Nurhayati.

Wanita hingga kini masih setia menjadi pendamping hidupnya itu adalah mualaf. Samsudin kemudian membimbingnya mencari bekal di akhirat nanti.

“Istri saya kemudian memeluk agama Islam sebelum menikah dengan saya. Kami kemudian tinggal bersama di kos-kosan di Palu,” katanya.

Meski sudah menetap lama di Pantoloan, Samsudin rupanya tak melupakan sanak familinya di kampung halaman. Ia pun berniat untuk kembali sekadar melepas rindu.

“Kalau nanti saya punya cukup uang, saya akan pulang kampung untuk bertemu keluarga,” tuturnya.

Hingga kini, Samsudin bertekad untuk membanting tulang demi menafkahi keluarga kecilnya. Ia meyakini usaha kerasnya nanti akan berbuah kebahagiaan.

“Saya tetap bekerja keras agar anak istri saya bisa bahagia meski dalam kondisi sederhana,” pungkasnya.

Melihat kondisi ini, Masyarakat Relawan Indonesia Aksi Cepat Tanggap (MRI-ACT) Sulteng langsung melakukan asesmen dan selanjutnya menyerahkan paket bantuan berupa paket pangan, kasur, selimut serta sejumlah bantuan lainnya.

Salah seorang anggota MRI-ACT Sulteng, Sujud Sahwi  mengatakan, setelah pihaknya mendapatkan informasi di media sosial ia bersama rekannya langsung menyambangi rumah keluarga miskin tersebut.

“Kalau dari kondisi kehidupannya sangat susah. Apalagi anak terakhirnya atau anak ke 7 yang baru berusia kurang lebih satu bulan masih sangat membutuhkan kebutuhan bayi seperti susu, popok maupun pakaian,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala Cabang ACT Sulteng, Nurmarjani Loulembah mengajak masyarakat maupun para dermawan untuk bersama-sama meringankan beban keluarga Samsudin melalui doa dan donasi.

“Bagi yang ingin donasi berupa uang dan barang silakan datang ke kantor kami di Jalan Mohamad Hatta Nomor 133 Kelurahan Lolu Utara Kota Palu,” pungkas Nurmarjani Loulembah. ***

Silakan komentar disini...
loading...