Antara Uang Kaget, DSLNG dan Terwujudnya Masyarakat Mandiri

367
FOTO UANG KAGET
RASMA Andapa, pemilik usaha Abon Ikan Ibu Neka memperlihatkan produk usahanya saat ditemui di kediamannya di Desa Dimpalon Baru, Kecamatan Kintom. Rasma adalah satu dari sekian banyak usahawan sukses yang dibina PT Donggi Senoro LNG. FOTO: AGUS PANCA SAPUTRA

SEORANG pria berpenampilan necis menyusuri lorong-lorong perkampungan warga. Tangan kanannya memegang sebuah koper hitam berisi uang tunai.

Beberapa bodyguard berbadan kekar senantiasa mengikuti langkah pria tersebut. Pria itu lantas berhenti di sebuah rumah yang kondisinya cukup memprihatinkan.

OLEH: AGUS PANCA SAPUTRA*

“Selamat Bu. Ibu menerima uang kaget senilai Rp 10 juta. Silahkan beli apapun kebutuhan ibu,” kata pria berjas kepada seorang ibu berbadan kurus dan berpakaian kumal.

Demikianlah cuplikan program bertajuk Uang Kaget yang ditayangkan salah satu stasiun televisi swasta tanah air.

Hampir setiap hari, program Uang Kaget disiarkan, tentunya dengan penerima yang berbeda. Tujuan utama program itu adalah membantu masyarakat kecil yang membutuhkan uluran tangan.

Meski bantuan yang diterima hanya senilai Rp 10 juta, namun angka tersebut sangat berarti bagi masyarakat miskin Indonesia yang kekurangan modal usaha atau kekurangan sarana dan prasarana usahanya.

Buktinya, seluruh penerima uang kaget tak kuasa menahan air matanya karena bahagia. Orang yang tak dikenal tiba-tiba mengantarkan uang kepadanya dan membantu peningkatan taraf hidupnya, tentu saja sebuah budi baik yang tak ternilai harganya.

“Terima kasih Pak,” jawab ibu berbadan kurus dan berpakaian kumal setelah diberi uang senilai Rp 10 juta.

Sambil menangis, ibu tersebut langsung sujud di tanah sebagai bentuk tanda syukur kepada Tuhan atas sebuah rezeki yang tak disangka-sangka.

Setelah diberi uang, ibu itu langsung berlari membeli apapun yang dia butuhkan. Terkadang dia membeli beras, kasur, kompor, sepeda, sepatu sekolah, pakaian atau bahan baku usahanya.

Setelah uang tersebut habis dibelanjakan, maka program televisi tersebut juga berakhir. Sayangnya, pemilik stasiun TV yang menayangkan program Uang Kaget tidak mempublikasikan kembali kisah penerima uang kaget itu, apakah kehidupannya makin membaik atau malah memburuk.

Masyarakat yang menyaksikan tayangan program tersebut juga tak pernah protes. PT Donggi Senoro Liquefied Natural Gas (DSLNG) serupa tapi tak sama dengan kisah dalam program Uang Kaget tersebut.

Keduanya serupa karena datang membawa uang tunai ke lorong-lorong perkampungan warga, menemui orang yang membutuhkan serta memberikan mereka bantuan atau pekerjaan. Keduanya tak sama, karena PT DSLNG masih terus memantau orang yang diberi bantuan sampai mereka hidup mandiri, sementara program Uang Kaget berakhir saat bantuan telah diberikan.

Jauh sebelum tahun 2007, sejumlah orang berpakaian rapi mulai mengidentifikasi dan mengeksplorasi kampung mana yang akan didatangi.

Setelah melalui proses yang panjang, akhirnya diketahui bahwa di Kecamatan Batui, Kintom dan Nambo Kabupaten Banggai, Provinsi Sulawesi Tengah mengandung sumber energi yang sangat baik bagi pembangunan bangsa dan masyarakat setempat.

Akhirnya, pada 28 Desember 2007, PT DSLNG didirikan. Perusahaan ini terdiri dari sejumlah pemegang saham seperti PT Pertamina Hulu Energi, PT Medco LNG Indonesia dan Sulawesi LNG Development Ltd.

Tak tanggung- tanggung, koper yang dibawa untuk negeri dan masyarakat Banggai berisi uang tunai senilai 2,8 miliar dolar!.

Jumlah yang banyak itu, tentu saja tidak hanya diberikan kepada seorang ibu berbadan kurus dan berpakaian kumal.

Namun dana tersebut dibagi-bagikan kepada ribuan warga yang dengan dana tersebut hidup mereka berubah drastis.

Masyarakat Banggai atau sebagian masyarakat di Sulawesi Tengah yang sebelumnya menjadi kuli, menjadi sopir rental, pekerja serabutan langsung dipekerjakan perusahaan.

Penghasilan mereka tak perlu diragukan. Setiap bulan, mereka bisa memperoleh uang jutaan yang nilainya dua sampai tiga kali lipat lebih banyak dibanding Upah Minimum Provinsi (UMP).

Mayoritas pekerja yang dulunya hidup susah kini berkecukupan. Jangankan untuk makan atau menyekolahkan anak, mereka bahkan mampu merenovasi rumah dan membeli kendaraan.

Kehadiran PT DSLNG di Kabupaten Banggai memang membawa perubahan signifikan. Perubahan ini tak hanya dirasakan oleh masyarakat, namun juga sangat dirasakan oleh Kabupaten Banggai secara keseluruhan.

Dengan adanya perusahaan gas berskala internasional, Kabupaten Banggai sangat diperhitungkan.

Keberadaan perusahaan menambah pendapatan daerah, tak hanya bagi Kabupaten Banggai itu sendiri melainkan bagi Provinsi Sulawesi Tengah.

Pembangunan daerah dari seluruh lini berkembang secara pesat, baik dari segi pendidikan, infrastruktur, ekonomi dan kesehatan.

Bahkan pada tahun 2017 tercatat, penduduk miskin di Kabupaten Banggai menurun 3.230 jiwa. Itu artinya, sebanyak 3.230 warga Kabupaten Banggai meningkat taraf hidupnya.

FOTO UANG KAGET 2
CSR Program Officer PT DSLNG, Rohani Simbolon didampingi Media Relations and Public Communication Lead PT Donggi Senoro LNG, Doty Damayanti dan pengurus Koperasi Simpan Pinjam Posaanguan Boune Banggai tengah menjelaskan perkembangan koperasi tersebut. FOTO: AGUS PANCA SAPUTRA

Atas prestasi ini, Gubernur Sulawesi Tengah Longki Djanggola memberikan apresiasi yang luar biasa.

Keberadaan PT DSLNG di Kabupaten Banggai juga turut memberi andil penting dalam peningkatan struktur Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Banggai.

Pada tahun 2015, APBD Banggai tercatat sebesar Rp 1,3 triliun, kemudian meningkat menjadi Rp 1,7 triliun pada tahun 2016 dan Rp 1,9 triliun pada tahun 2017.

Tentu saja, dengan anggaran sebesar itu, Pemerintah Banggai dapat menjalankan program-program pembangunan daerah dan pembangunan masyarakat secara baik.

CSR ENAM JUTA DOLAR

Seiring dengan berkembangnya pembangunan kilang gas PT DSLNG, pengurangan tenaga kerja tak dapat dihindarkan.

Kini, tak semua masyarakat Banggai bisa bekerja di perusahaan itu, karena pekerjaan di dalam perusahaan mengharuskan tenaga kerja yang memiliki keahlian dan keterampilan.

Berbeda ketika perusahaan ini baru didirikan, dimana tenaga kerja yang memiliki kemampuan level bawah bisa ikut dipekerjakan.

Akhirnya, masyarakat yang terkena dampak pengurangan tenaga kerja harus tetap berpikir bagaimana caranya agar mereka bisa bertahan hidup dan tetap sejahtera.

Dengan kondisi tersebut, PT DSLNG tidak tinggal diam. Sebagai tanggung jawab perusahaan, PT DSLNG tetap berkewajiban membantu warga, khususnya di lingkar usaha sehingga apa yang disebut masyarakat mandiri terwujud.

Sebelum mengeluarkan bantuan bertajuk Corporate Social Responsibility (CSR), PT DSLNG sebelumnya melakukan pemetaan-pemetaan.

Pemetaan ini dianggap penting untuk mengetahui apa saja yang akan dibantu serta kepada siapa bantuan itu akan disalurkan. Dengan pemetaan ini, bantuan yang diberikan kepada masyarakat dapat terukur serta sesuai dengan kebutuhan.

Pemetaan ini pun dilakukan di seluruh sektor, seperti sektor infrastruktur, pendidikan, kesehatan, pertanian, perikanan, ekonomi mikro, sektor lingkungan serta sektor seni dan budaya.

Dari hasil pemetaan ini, PT DSLNG kemudian mengeluarkan dana sebesar 6,673 juta dolar dalam bentuk CSR. Program ini telah berlangsung sejak tahun 2008 hingga tahun 2018 dan tersebar di 22 desa di tiga kecamatan yakni Kecamatan Batui, Kecamatan Kintom dan Kecamatan Nambo.

Dari sejumlah permasalahan yang ditemukan di masyarakat, diketahui bahwa sebagian besar usahawan di tiga kecamatan itu terkendala modal usaha, terkendala peralatan modern, kurangnya ilmu pengetahuan dalam pengembangan usaha, serta kesulitan dalam memasarkan hasil usahanya. Olehnya, bantuan yang diberikan oleh perusahaan tak hanya berupa tambahan modal, melainkan berupa bantuan peralatan modern hingga penempatan tenaga ahli pendamping di tiap-tiap kelompok penerima bantuan.

Kehadiran tenaga ahli pendamping ini sangat penting, sehingga para usahawan yang memperoleh bantuan senantiasa diberikan masukan tentang cara meningkatkan usahanya.

Pendampingan terus dilakukan sehingga kelompok penerima bantuan bisa berusaha secara mandiri. Inilah tujuan utamanya. Salah seorang penerima CSR PT DSLNG bernama Rasma Andapa, warga Desa Dimpalon Baru Kecamatan Kintom.

Wanita yang akrab disapa Ibu Neka ini sukses dengan usaha abon ikannya. Untuk memudahkan penjualan, Rasma kemudian menamakan produknya dengan namanya sendiri, Abon Ikan Ibu Neka.

Seiring waktu, usaha Abon Ikan Ibu Neka berkembang pesat. Dengan bantuan PT DSLNG, usaha Abon Ikan Ibu Neka sudah bisa diperoleh di swalayan-swalayan dan telah dipamerkan hingga ke Kota Palu, ibukota Provinsi Sulawesi Tengah yang jaraknya lebih dari 600 kilometer dari kediaman Ibu Neka.

Pembelinya bukan hanya warga biasa. Presiden Jokowi pun telah menikmati abon ikan buatan Ibu Neka ini. “Dari usaha saya ini, saya bisa memperbaiki rumah ini,” tutur Rasma Andapa saat ditemui di kediamannya medio Juni 2018 silam.

“Dulu rumah saya tak sebagus ini pak,” katanya sambil berurai air mata. Ibu Neka tak habis pikir, sekiranya PT DSLNG tak membantunya.

“Saya berterima kasih kepada perusahaan, karena telah membimbing dan membina saya. Dengan bantuan perusahaan, saya bisa menjalankan usaha  ini,” urai Rasma Andapa dengan mimik sedih.

Hal senada juga diungkap Ketua Koperasi Simpan Pinjam Posaanguan Boune Banggai, Marma. Ditemui di kantornya di Kecamatan Batui, Marma mengaku pendapatan koperasi meningkat tajam sejak dibantu PT DSLNG.

Bahkan kedepan, Marma menargetkan  anggota koperasi sebanyak 250 orang dari 64 anggota yang terdaftar saat ini.

“Setiap anggota kami beri bantuan maksimal Rp 2 juta dengan bunga dua persen. Awalnya, modal kami hanya Rp 50 juta, sekarang sudah Rp 70 juta,” sebutnya.

Iswanto, Ketua Kelompok Tani Inautan di Kelurahan Sisipan, Kecamatan Batui pun menyatakan demikian. Ia sangat terbantu dengan program-program CSR PT DSLNG.

Menurut Iswanto, ia dan anggotanya tak perlu kuatir dalam memasarkan hasil panen, karena PT DSLNG telah mendirikan Stocking Point yang membeli semua hasil panen petani dengan harga pasar.

“Berapapun hasil panen kami, pasti dibeli. Harganya pun sesuai harga pasar, jadi kami tidak dimainkan tengkulak,” tegasnya.

Media Relations and Public Communication Lead PT Donggi Senoro LNG, Doty Damayanti menuturkan, bantuan yang diberikan PT DSLNG kepada masyarakat tidak akan berhenti, sampai kelompok usaha tersebut bisa menjalankan usahanya secara mandiri.

“Kemandirian kelompok usaha adalah cita-cita terbesar kami. Makanya setiap kelompok usaha senantiasa didampingi tenaga ahli, agar usaha tersebut tidak berhenti setelah menerima bantuan.  Soal cepat atau lambat kemandirian itu diperoleh, itu tergantung dari kelompok usaha masing-masing,” tutur Doty.

Ia berharap seluruh penerima CSR PT DSLNG bisa memanfaatkan bantuan sebaik-baiknya terwujudnya masyarakat yang mandiri dan sejahtera. ***

*Penulis adalah Pemimpin Redaksi SultengTerkini.Com. Tulisan ini dikhususkan untuk diikutsertakan dalam Anugerah Jurnalistik DSLNG 2018.

Silakan komentar disini...
loading...